Kejati Papua Seret Dua Tersangka Kasus Korupsi ke Penjara

By Redaksi 31 Mar 2021, 05:50:26 WIB HUKUM
Kejati Papua Seret Dua Tersangka Kasus Korupsi ke Penjara

Keterangan Gambar : Proses penahanan kedua tersangka korupsi di Kantor Kejati Papua. (Foto: Istimewa)


Jayapura, Potret.co – Kejaksaan Tinggi Papua menahan dua tersangka kasus dugaan korupsi dana miliaran rupiah. Keduanya kini mendekam di rumah tahanan Lembaga Pemasyarakatan Abepura, Kota Jayapura, Selasa (30/3).

Keduanya yakni LA selaku mantan Pelaksana Harian Kepala Gudang dan Logistik Perum Bulog Cabang Nabire periode 2018 dan FWB selaku mantan Kepala Kantor Pos Kabupaten Biak Numfor.

Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Nikolaus Kondomo saat dikonfirmasi melalui Kepala Seksi Penyidikan Pidana Khusus Yusak Ayomi menegaskan, penahanan kedua tersangka berlaku sejak Selasa, 30 Maret 2021.

Keduanya, lanjut Yusak, ditahan usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Kantor Kejati Papua.

“Saat ini, 30 Maret 2021 di Kantor Kejati Papua sedang dilakukan proses penahanan tersangka kasus Bulog dan tersangka kasus korupsi di Kantor Pos Biak,” kata Yusak, Selasa petang.

Yusak mengemukakan, tersangka FWB ditahan karena menggunakan Rp3,6 miliar uang kas perusahaan pada tahun 2020 lalu. Uang yang seharusnya masuk kas perusahaan PT. Pos Biak digunakan untuk bermain judi daring (online) oleh tersangka.

"Pada bulan April  sampai dengan September 2020 terjadi penyalahgunaan wewenang, yaitu pengeluaran uang panjar tidak sesuai peruntukannya sebesar Rp3,6 milair. Uang itu ditransfer ke rekening pribadi tersangka dan digunakan untuk bermain Trading Binomo,” jelasnya.

Belasan saksi telah dimintai keterangan terkait kasus yang melilit tersangka FWB.

"Saksi sekitar 14 dan saksi ahli satu orang, sedangkan barang bukti yang kami amankan 21 dokumen, kepada tersangka disangkakan Pasal 2 dan 3 UU Tipikor dengan ancaman minimal 1 tahun dan maksimal 20 tahun penjara,” kata Yusak.

Untuk tersangka LA, kata Yusak, ditahan karena kasus dugaan korupsi pengadaan 1.028 beras fiktif oleh Perum Bulog Cabang Pembantu Nabire yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp10,811 miliar.

Selain LA, kasus tersebut juga menyeret mantan Kepala Kantor Seksi Logistik (Kansilog) Nabire periode 2017-2018 berinisial RH. Atas perbuatannya, mereka dijerat Pasal 2 dan 3 UU Tipikor dengan ancaman minimal 1 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

“LA memanipulasi data dokumen beras masuk gudang dan kwitansi pembelian beras, padahal RH tidak pernah melakukan pembelian beras petani,” kata Yusak sembari menjelaskan uang pengadaan beras digunakan oleh keduanya untuk kepentingan pribadi. (mas)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment

Loading....



Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video