Satgas Noken Ungkap Alasan Anak-anak Papua Pilih OPM

By Admin 17 Des 2018, 13:51:03 WIB NASIONAL
Satgas Noken Ungkap Alasan Anak-anak Papua Pilih OPM

Keterangan Gambar : Aparat TNI dan Polri mengawal proses pemberangkatan keluarga korban untuk diterbangkan ke Timika di Wamena, Papua, Kamis, 6 Desember 2018. ANTARA / Iwan Adisaputra


Potret.co Jakarta - Kepala Satuan Tugas Polri Bimbingan Masyarakat Noken, Kepolisian Daerah Papua Eko Sutardo mengatakan salah satu penyebab berlanjutnya gerakan di Papua karena trauma konflik yang dialami oleh anak-anak Papua.

"Iya karena mereka mengalami trauma konflik, maka gerakan separatis ini masih terus tumbuh," ujar Eko saat ditemui Tempo di Jakarta Selatan, Selasa 11 Desember 2018.

Eko menyebutkan bentuk trauma konflik itu seperti keluarga menjadi korban penembakan, sampai rasa benci muncul tanpa ada tantangan atau pemulihan.

Eko memisalkan Sebby Sambom yang masih muda menjadi juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) organisasi kerja militer Operasi Papua Merdeka.

Eko mengatakan tidak sedikit anak-anak yang berada di kawasan konflik, terutama di kawasan zona merah yang ditempati oleh kelompok bersenjata.

Selain itu, kata Eko, hubungan hubungan langsung antara anak-anak dengan Kelompok Bersenjata di lingkungannya juga akan menumbuhkan doktrin-doktrin kebencian. "Mereka kelompok kriminal itu langsung berhubungan dengan anak-anak di lingkungannya, karena mereka menanamkan doktrin-doktrin kebencian," ujarnya.

Gabungan, Eko memulai, banyak satgas Bimas Noken Temukan anak-anak yang ingin menjadi anggota OPM atau ingin jadi tentara OPM.

Eko menyebutkan pihaknya pun sudah memberikan trauma healing untuk sejumlah anak-anak di Papua, namun jumlah tenaga Satgas Bimas Noken belum sebanding dengan banyak anak Papua yang berada di kawasan rawan konflik.

"Kuantitas tenaga trauma healing kami masih terbatas mas," ujarnya.

Sebelumnya, Peneliti LIPI khusus masalah Papua Adriana Elisabeth senior salah satu penyebab terulangnya kasus penembakan atau pemotongan HAM di Papua karena tidak ada program trauma healing dari pemerintah.

Adriana pun membandingkan pentingnya pendampingan trauma bagi korban konflik dengan korban bencana. "Pemerintah untuk trauma healing disaster seperti gempa Lombok, Donggala sigap masuk pendamping, padahal bagi korban konflik ini juga sangat dibutuhkan, tapi pemerintah belum memiliki program untuk itu," ujarnya.

Insiden penembakan terjadi di Papua pada Ahad 2 Desember 2018. Puluhan pekerja proyek jalan Trans Papua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Nduga, Papua, diserang oleh kelompok bersenjata TPNPB. Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) bekerja militer Papua Merdeka (OPM) yang membimbing sebagai pelaku di balik kondisi tersebut.(**)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment

Loading....



Jejak Pendapat

Siapakah Calon Presiden dan Wakil Presiden Favorit Anda ?
  Jokowi-Ma'ruf
  Prabowo-Sandiaga

Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video