Perekonomian Papua Tumbuh Negatif Selama 2019, Ini Penyebabnya

By Admin 06 Feb 2020, 10:55:11 WIB EKONOMI
Perekonomian Papua Tumbuh Negatif Selama 2019, Ini Penyebabnya

Keterangan Gambar : Kepala BPS Papua, Simon Sapary didampingi staf saat merilis pertumbuhan ekonomi Papua.


Jayapura, Potret.co - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua merilis pertumbuhan ekonomi Papua selama tahun 2019 mengalami kontraksi -15,72 persen.

Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapary mengatakan, pertumbuhan ekonomi Papua yang tumbuh negatif disebabkan menurunnya produksi pada kategori pertambangan dan penggalian sebesar -43,21 persen.

"Penurunan produksi pada kategori ini terutama disebabkan oleh turunnya produksi bijih logam PT Freeport selama tahun 2019 karena masa peralihan lokasi tambang dari terbuka ke tambang bawah tanah," ujar Simon, Kamis (06/02/2020).

Simon melanjutkan, dari sisi pengeluaran, kontraksi pertumbuhan disebabkan oleh komponen ekspor luar negeri yang mengalami penurunan hingga - 69,10 persen. Namun, apabila perekonomian Papua tanpa tambang, mengalami pertumbuhan positif 5,03 persen. 

Pada tahun 2019, besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua atas dasar harga berlaku mencapai Rp189,716 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp134,677 triliun.

Sebelumnya, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua, Naek Tigor Sinaga mengungkapkan, pihaknya memperkirakan perekonomian Papua pada tahun 2019 tumbuh negatif antara -12 persen hingga - 11,9 persen.

“Ini kita sudah prediksi sebelum triwulan II tahun 2019 lantaran Papua sangat bergantung  pada tambang yang ada di Kabupaten Mimika. Pertumbuhan negatif ini kita bandingkan satu tahun sebelumnya. Dan diperkirakan akan pulih tahun 2020,” ucap Naek.

Naek menyebutkan, aksi demo yang berujung rusuh beberapa waktu lalu di Kota Jayapura tak berdampak pada perekonomian Papua lantaran terjadi hanya sesaat.

“Memang sempat terjadi penurunan transaksi di perbankan pada tanggal 29-30 Agustus 2019, tapi hanya terpengaruh di tanggal tersebut, selanjutnya berjalan normal, begitupun kerusuhan di Wamena, karena daerah ini bukan penghasil komoditi yang signifikan, oleh karena itu keyakinan kami kerusuhan tidak mempengaruhi perekonomian Papua,” imbuhnya.

“Tapi akan signifikan pengaruhnya apabila Mimika terganggu atau tidak kondusif  lantaran ada pertambangan di daerah tersebut. Sementara daerah yang signifikan diluar pertambangan masih ada Kota Jayapura dari sektor jasa dan perdagangan, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom serta Kabupaten Merauke dari sektor pertanian. Jadi diluar tambang tumbuh psoitif 5,7 persen," lanjutnya. (Zulkifli)

 

 

 

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment

Loading....



Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video