Pelajar Dan Mahasiswa Intan Jaya Desak Bupati dan DPR Evakuasi Warga Pengungsi

By Admin 23 Jan 2020, 16:30:53 WIB DAERAH
Pelajar Dan Mahasiswa Intan Jaya Desak Bupati dan DPR Evakuasi Warga Pengungsi

Keterangan Gambar : Pemuda dan Mahasiswa Intan Jaya di Jayapura


Potret.co, Jayapura - Pelajar dan Mahasiswa kabupaten Intan Jaya yang berada di Kota study Jayapura mendesak pemerintah daerah Kabupaten Intan Jaya dan DPRD Intan Jaya segera membentuk tim untuk mengevakuasi warga pengungsi di beberapa kampung atas bentrok TNI Polri dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diwilayah itu.

Permintaan pembentukan tim evakuasi tersebut disampaikan perwakilan Pelajar dan Mahasiswa Intan Jaya saat di temui di Asrama Intan jaya di Waena, (22/1/2020).

Dikatakan, Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni pernah menyampaikan akan pembentukan tim tersebut, namun hingga kini urung nampak. Padahal, dibeberapa kampung seperti Kampung Titigi, Kampung Dugusiga, Kampung Ugimba dan di beberapa tempat yang situasinya belum aman warga hidup dalam ketakutan.

"Bupati sampaikan bahwa pembentukan tim itu berdasarkan surat keputusan Bupati. Tapi sampai saat ini kami melihat hasil pertemuan itu belum ditindak lanjuti.Kami mendesak kepada pemerintah dalam hal ini Bupati dengan DPRD segera bentuk tim," kata Richo Kobogau Senioritas Mahasiswa Intan Jaya.

Menurutnya, Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengevakuasi pengungsi di beberapa kampung yang warganya sedang mengungsi sampai hari ini. Selain itu, akibat konflik itu ada beberapa pelajar Sd dan SMP yang sampai saat ini belum kembali ke tempat untuk belajar. 

"Mereka itu (pelajar) ada yang mengungsi ke Nabire, Timika dan itu menjadi keresahan kami. Dimana dalam bulan ini mereka tidak mengikuti proses belajar maka sudah pasti mereka tidak diikutsertakan dalam ujian nanti,"katanya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta Kepala Daerah dan Dinas terkait untuk segera melihat persoalan tersebut. Para siswa harus diberikan haknya untuk belajar.

"Kami mendesak kepada pemerintah bawa yang paling penting sekarang itu masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah melalui dinas Pendidikan dan kesehatan. Dalam hal ini pemerintah harus koordinasi dengan dinas terkait soal pelajar yang hendak ujian, dan lagi kaitannya dengan kesehatan, Pemda harus siapkan tenaga medis dari luar supaya mereka - mereka yang sedang mengungsi ini bisa mendapatkan pengobatan sedangkan tenaga medis yang lain untuk datang mengevakuasi pengungsi," katanya.

Kami juga meminta kepada pemerintah dalam hal ini Bupati dan DPRD agar penambahan TNI - Polri di beberapa distrik itu dihentikan. Karena kehadiran aparat TNI - Polri membuat masyarakat resah. Sehingga banyak masyarakat yang mengungsi di beberapa kota.

"Pemerintah punya tugas untuk memberitahukan masyarakat bahwa penambahan personil itu sekian. Sehingga masyarakat juga dapat mengetahui estimasi TNI - Polri yang datang mengamankan situasi," ujarnya.

Sementara itu Yanuris Wea mengungkapkan bahwa, pihaknya sebagai Mahasiswa yang memiliki fungsi agen perubahan dan agen kontrol. Melalui wadah Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Intan jaya kota study Jayapura mendesak pemerintah daerah untuk merealisasikan penyelesaian persoalan tersebut.

"Kami mendapat informasi dari orang tua kami di Intan Jaya bahwa yang mereka butuhkan adalah kedamaian, ketenangan dan keselamatan buat mereka, bukan bentrok yang malah membuat kami takut,"katanya.

"Kami sangat trauma dan psikologi kami terganggu terhadap tembakan - tembakan antara TPN/OPM dan TNI - Polri. Orang tua kami ada di tengah mereka itu, sehingga kami minta kepada pemerintah atau pihak yang berwenang untuk mengamankan masyarakat yang ada di tempat itu sehingga psikologi atau trauma tidak terjadi lagi,"sambungnya.

Menurutnya, penambahan pasukan tidak perlu dilakukan, anggota yang telah di Intan Jaya dinilai telah cukup tidak perlu ada penambahan pasukan.

"Jadi kami harap tidak ada penambahan lagi biarkan yang sudah ada yang tangani masalah disana jangan tambah lagi,.karena warga inginkan damai,.bukan bentrok " harapnya.(Surya)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment