PAK WIRANTO DAN PAK MULDOKO, DIMINTA BERPIKIR DENGAN CARA YANG BERBEDA.
Oleh Habelino Sawaki, S.H.,M.Si (Han)

By Admin 05 Sep 2019, 06:33:29 WIB RAGAM
PAK WIRANTO DAN PAK MULDOKO, DIMINTA BERPIKIR DENGAN CARA YANG BERBEDA.

Keterangan Gambar : Habelino Sawaki, S.H.,M.Si (Han)


"Pak Wiranto dan Pak Muldoko kami minta berhenti bermain kata-kata di media mengenai persoalan Papua dan segera bertindak menyelesaikan persoalan marginalisasi Orang Asli Papua".

Marginalisasi yang tidak segera ditangani dengan baik akan menimbulkan letupan. Apapun idiologi yang dianut, memuliakan orang asli Papua adalah sebuah keharusan.

Pertanyaan yang mungkin bapak berdua bisa jawab adalah: apakah selama satu periode Pak Jokowi orang asli Papua tambah marginal atau tambah lebih baik. Jika jawabannya adalah selama kepemimpinan satu periode pak Jokowi marginalisasi OAP semakin tinggi yah berarti harus dikaji kembali cara bangun Papua yang lebih tepat.

Bapak Wiranto dan Bapak Muldoko juga mungkin perlu memandang dari sisi yang berbeda dengan pandangan bapak berdua selama ini: Kisruh Papua seharusnya jadi bahan refleksi bagi pemerintah agar memahami bahwa Memuliakan OAP jangan direduksi menjadi pembangunan infrastruktur semata. Membangun OAP dan membangun Papua adalah dua hal yang berbeda. Bapak berdua juga perlu tahu bahwa "orang asli Papua" itu berbeda dari "orang Papua". Pembangunan yang  dilakukan haruslah fokus kepada orang asli Papua.

Pak Wiranto dan Pak Muldoko juga kami minta mengerti bahwa Gerakan Papua merdeka tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi lahir sebagai akibat struktur politik dan struktur ekonomi yang dirasakan tidak adil. Bahkan semua gerakan dekolonisasi dalam seluruh sejarah umat manusia muncul sebagai akibat struktur politik dan struktur ekonomi yang dianggap tidak adil.

"Jadi yang bikin Gerakan Papua Merdeka ini adalah negara. Kalau negara ini bertindak adil tidak mungkin ada tuntutan referendum".

Gerakan Papua merdeka lahir pada setiap saman dengan segala bentuknya (soft maupun radikal) adalah sebagai interpretasi mithe ratu adil. Mithe ini senantiasa diinterpretasikan kembali oleh setiap generasi seturut dengan tantangan eksternal. Bapak Wiranto dan bapak Muldoko sebagai orang Jawa tentu paham mithe ratu adil dalam perspektif "kejawen". Cobalah bapak berdua memandang gerakan Papua merdeka dari sudut pandang "kejawen". Mudah-mudahan bapak berdua bisa lebih mengerti.

Tidak ada jalan bagi Jakarta untuk menyelesaikan persoalan Papua merdeka selain dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang murni.  Papua akan selalu jadi "bom waktu" jika Jakarta tidak pernah serius urus Papua. Kalau Jakarta serius urus Papua tentu marginalisasi akan bisa berkurang dan orang asli Papua semakin maju. Kenyataannya kan tidak begitu. 

Memahami orang Papua artinya juga memahami mithe yang menggerakan alam bawah sadar orang Papua. Tanpa memiliki hati yang murni, kita tidak akan pernah mampu memahami apa yang berlangsung di dalam pikiran dan hati orang asli Papua. Menurut saya ini adalah sebuah tantangan yang akan dihadapi oleh siapa pun pemimpin Republik ini. 

Berapa lama konflik Papua akan berlangsung sangat ditentukan oleh bagaimana negara bersikap terhadap OAP. 

Sebagai anak Papua lulusan Universitas Pertahanan Indonesia, saya berharap bapak berdua bisa menggunakan para pemikir yang merupakan orang asli Papua sehingga mudah-mudahan bisa memberi masukan dan wawasan yang berbeda dan memperkaya mengenai Papua.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment