NTP Papua Minus 0,55 Persen, Ini Penyebabnya

By Admin 02 Des 2019, 19:30:41 WIB EKONOMI
NTP Papua Minus 0,55 Persen, Ini Penyebabnya

Keterangan Gambar : Bambang Wahyu Ponco Aji. (Syahriah)


Jayapura, Potret.co -  Kepala Bidang Statistik Disribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Bambang Wahyu Ponco Aji mengungkapkan, penyebab Nilai Tukar Petani (NTP) di Papua pada November 2019 -0,55 persen dengan Indeks NTP 93,13 disebabkan kenaikan indeks harga dibayar petani  lebih besar dibandingkan indeks harga diterima petani.

Bambang melanjutkan, berdasarkan pemantauan harga pedesaan di beberapa daerah di Papua, kenaikan indeks NTP disebabkan oleh kenaikan indeks harga dibayar petani (lt) sebesar 0,52 persen dan indeks harga diterima petani (lb) mengalami penurunan angka indeks sebesar -0,03 persen.

NTP Papua, kata Bambang, menurut subsektor yaitu NTP subsektor tanaman pangan 86,05, NTP subsektor holtikultura 82,08, NTP subsektor tanaman pekebunan rakyat 98,48, NTP subsektor peternakan 111,29, dan NTP perikanan 102,99.

“NTP subsektor perikanan dirinci menjadi NTP perikanan tangkap 111, 10 dan NTP perikanan budidaya 80,73,” jelas Bambang, Senin (2/12/2019).
Dari 33 provinsi yang dilakukan penghitungan NTP pada November 2019 menunjukkan bahwa 18 provinsi mengalami peningkatan NTP, sementara 15 provinsi lainnya mengalami penurunan NTP.

“Provinsi Riau tercatat mengalami kenaikan NTP tertinggi yaotu 2,34 persen dan Bangka Belitung mengalami penurunan terbesar yaitu -3,07 persen,” ucapnya.

Bambang menambahkan, dari 33 provinsi tercatat 24 provinsi mengalami inflasi perdesaan, 9 provinsi mengalami deflasi pedesaan, inflasi pedesaan tertinggi di Sulawesi Utara 1,12 persen dan deflasi pedesaan terbesar tercatat di Maluku sebesar -0,48 persen.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Papua pada November 2019 adalah 115,20 atau turun -0,32 persen. (Syahriah)

==
Caption :

Ini Penyebab Penumpang Keluar dan Masuk Melalui Dua Pelabuhan di Papua Meningkat

Jayapura, Potret.co – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat pada Januari hingga Oktober 2019, jumlah penumpang keluar (berangkat/embarkasi) melalui Pelabuhan Jayapura dan Pelabuhan Merauke mengalami peningkatan.

Jumlah embarkasi penumpang angkutan laut pada periode Januari hingga Oktober 2019 mengalami peningkatan 34,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebanyak 102.617 orang.

“Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah penumpang di Pelabuhan Jayapura 40,54 persen dan 9,35 persen di Pelabuhan Merauke,” jelas Bambang Wahyu Ponco Aji, Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Papua, Senin (2/12/2019).

Selain embarkasi penumpang mengalami peningkatan, jumlah penumpang masuk (datang/debarkasi) juga mengalami hal yang sama dibandingkan Januari hingga Oktober 2018.

Arus debarkasi penumpang pada periode Januari hingga Oktober 2019 mengalami peningkatan 23,54 persen. Hal tersebut dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah penumpang yang datang di Pelabuhan Jayapura 22,63 persen dan Pelabuhan Merauke 28,65 persen. (Syahriah)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment