Laku Pandai, Peluang Bisnis Berkonsep Kemitraan Bank

By Syahriah Amir 17 Nov 2020, 20:19:31 WIB ARTIKEL
Laku Pandai, Peluang Bisnis Berkonsep Kemitraan Bank

Keterangan Gambar : Agen BRILink Sri Lestari, salah satu agen Laku Pandai program OJK yang berada di Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura. (Foto : Syahriah)


Jayapura, Potret.co – Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) adalah program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk penyediaan layanan perbankan atau layanan keuangan lainnya melalui kerja sama dengan pihak lain (agen bank) yang didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Produk – produk yang disediakan dalam program ini adalah tabungan dengan karateristik Basic Saving Account (BSA), dan kredit atau pembiayaan kepada nsabah mikro.

Di Provinsi Papua, jumlah agen Laku Pandai perorangan tercatat 919.058 agen hingga posisi Juni 2020, meningkat dari posisi Desember 2019 yang tercatat sebanyak 834.318 agen.

“Dengan total saldo tabungan Basic Saving Account (BSA) mencapai Rp1,5 triliun, angka ini mengalami kenaikan dari posisi Desember 2019 yang tercatat Rp1,29 triliun,” jelas Adolf Fictor Tunggul Simanjuntak, Kepala OJK Provinsi Papua dan Papua Barat, Senin (16/11/2020).

“Sementara, agen Laku Pandai badan hukum tercatat 37.465 pada Juni 2020, mengalami penurunan dari 40.329 agen pada Desember 2019,” lanjut Adolf tanpa menyebutkan penyebab menurunnya jumlah agen badan hukum tersebut.

Adolf mengatakan bahwa semakin banyak anggota masyarakat di Papua yang sudah mengenal, menggunakan atau mendapatkan layanan perbankan dan keuangan lainnya melalui program Laku Pandai. 

Hal tersebut berdasarkan jumlah agen Laku Pandai yang hampir mencapai satu juta agen perorangan dan puluhan ribu agen badan hukum.

“Dengan jumlah yang cukup besar ini, mempengaruhi indeks inklusif keuangan (peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan) di Papua. Pada tahun 2019, indeks inklusif keuangan di Papua telah mencapai 60,88 persen, naik dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 59 persen, kendati masih berada di posisi ke-31 dari 34 provinsi di Indonesia,” kata Adolf.

Adolf menyebut, menjadi agen Laku Pandai adalah sebuah peluang bisnis yang menggunakan konsep kemitraan bank. Perbankan dan agen sama – sama mendapatkan keuntungan.

“Manfaat bagi perbankan adalah efisiensi anggaran, karena tidak perlu membuka kantor cabang untuk melayani keuangan masyarakat yang tempat tinggalnya jauh dari kantor perbankan, sementara bagi agen, mendapatkan fee dari setiap transaksi yang dilakukan, semakin banyak transaksi, maka semakin besar pula fee yang didapatkan,” ucap Adolf.

Salah satu Bank Himbara (Himpunan Bank Negara) yang memiliki ribuan agen Laku Pandai di Papua adalah BRI. Melalui agennya yang diberi nama BRILink.

Wakil Kepala Bagian BRILink Kantor BRI Wilayah Jayapura, Dae Rezky Rahadian menyebutkan kehadiran agen BRILink sangat membantu masyarakat untuk memanfaatkan layanan perbankan sesuai kebutuhan terlebih di Papua.

“Kelebihan kita di BRI karena sudah punya satelit sendiri, sangat membantu dalam mengakses layanan perbankan melalui agen BRILink. Kita juga memberikan kesempatan kepada agen BRILink berupa rujukan yang nantinya bisa merekomendasikan masyarakat sekitar agen untuk menjadi nasabah BRI,” jelasnya.

Sejak 2017 hingga Oktober 2020, total agen BRILink di Papua sebanyak 3.765. Tahun ini, BRI Kanwil Jayapura menargetkan penambahan agen baru sebanyak 2.500.

Salah satu agen BRILink perorangan di Papua, Sri Lestari menuturkan, tiga tahun menjadi agen, pendapatannya telah mencapai miliaran rupiah sebulan dari total transaksi lebih dari 4.000.

Dari total transaksi tersebut, Sri memperoleh keuntungan hingga belasan juta rupiah. Keuntungan ini kemudian digunakan Sri untuk menambah modal usahanya yang menyediakan barang kebutuhan sehari – hari.

Ditemui di outletnya di Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, Sri mengungkapkan awalnya saldo tabungan menjadi agen BRILink hanya Rp20 juta. Setelah tiga tahun berjalan menjadi agen, dari keuntungan yang diperoleh meningkat menjadi Rp50 juta.

“Untuk nilai transaksi per bulannya saya tidak menghitung, saya hanya menghitung jumlah transaksi, sebulan bisa lebih dari 4.000 transaksi, saya tahunya kalau nilai transaksi mencapai miliaran rupiah sebulan dari fee yang saya dapatkan dari BRI,” ucap Sri. (Syahriah)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment

Loading....



Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video