Ini Saran Kepala BNPB RI Usai Tinjau Lokasi Banjir Sentani

By Admin 19 Mar 2019, 17:29:13 WIB NASIONAL
Ini Saran Kepala BNPB RI Usai Tinjau Lokasi Banjir Sentani

Keterangan Gambar : Jayapura - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia Letkol TNI. Doni Munardo berbincang dengan salah satu korban banjir di Sentani Kabupaten Jayapura. Selasa, (18/3/2019) (foto: istimewa)


 

Potret.co, Jayapura - Usai meninjau lokasi yang terdampak akibat banjir bandang di Sentani Kabupaten Jayapura. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia Letkol TNI Doni Munardo menyarankan beberapa hal salah satunya menanam pohon dan imbau tak membuka lahan perkebunan di Cycloop.

Pohon yang dimaksud adalah pohon Matoa. Penanaman pohon Matoa dinilai memiliki manfaat jangka panjang, serta bernilai ekonomi. Bahkan buahnya bisa dimanfaatkan saat PON 2020.

“Beberapa pohon Matoa yang saya saksikan itu memikiki akar yang kuat. Matoa ini bisa ditanam dibanyak tempat. Masyarakat mungkin tidak perlu menebang pohon dan buahnya bisa dipetik dan harga buah matoa sekarang mencapai puluhan ribu rupiah perkilo,” kata Doni Munardo dalam kunjungannya belum lama ini di lokasi terdampak banjir di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Setelah melihat banyaknya pohon, bebatuan, dan material yang terbawa arus pihaknya menyimpulkan beberapa hal yang dinilai menjadi faktor. Tiga faktor itu harus ditemukan solusinya.

Faktor pertama kata Doni, yakni kemiringan cagar alam Cycloop ini sangat terjal. kemudian lapisan tanahnya itu sangat tipis dan di bawahnya terdapat bebatuan kemudian ditutupi sejumlah tanaman.

“Ketika ada sedikit tanaman yang terpotong atau terkupas maka ini akan memudahkan longsor. Grafitasi dengan kemiringan lebih dari 40° tentunya ini sangat cepat,” katanya.

Yang kedua adalah faktor cuaca, Intensitas hujan yang sangat tinggi mulai tanggal16 Maret sore jam 18.00WIT sampai dengan 23.30WIT. Jadi hanya dalam kurun waktu 5 jam itu terjadi penampungan air yang ada di kawasan cagar alam.

“Kemudian daya tampungnya mungkin sudah terbatas sehingga dengan cepat mengalir ke tempat yang rendah,” ucapnya.

Yang ke tiga adalah faktor manusia. Berdasarkan data saat ini sebagian dari kawasan gunung cycloop ini suda di jadikan sebagai kawasan perkebunan.

“Ini laporan masuk, jika ada aktifitas pembukaan lahan untuk kebun,” tuturnya.

Untuk itu, harus ada sebuah komitmen dari semua pihak termasuk dari tokoh- tokoh di papua khususnya di Sentani, mengajak  masyarakat agar tidak beraktifitas kawasan itu.

“Kalau tidak cepat atau lambat, kita tidak tau di antara keluarga kita yang ada di daerah rawan terjadinya longsor dan banjir pasti akan jadi korban," ucapnya.

Sekali lagi himbauan yang telah disampaikan oleh banyak pihak baik di kalangan pemerintah daerah dan juga tokoh masyarakat hendaknya bisa di patuhi. Peran tokoh agama terutama para pendeta untuk mengingatkan kepada warga kita semua agar mau mengikuti aturan yang ada.

“Cagar alam ini tentunya kita harus lindungi. salah satu yang harus menjadi perhatian kita semua upaya- upaya yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan fungsi konservasi menanam pohon,” ucapnya. (Surya)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment