Ini Kata Kuasa Hukum CV. Bintang Mas Soal Sengketa Tanah Jembatan Merah Dan Netar

By Admin 06 Agu 2019, 07:36:23 WIB DAERAH

Potret.co,  Jayapura - Kuasa Hukum CV. Bintang Mas, Muslim, SH., M.Hum angkat bicara soal kisruh klime Tanah Ulayat Jembatan Merah (Holtekam) dan Netar Kabupaten Jayapura.

 

Dihubungi via seluler, Senin (5/8) Muslim memaparkan kronologi versi CV. Bintang Mas dan yang dikatakan menang dalam proses persidangan.

 

Terkait lahan Jembatan Merah, yang bersangketa dengan Gerson Hassor, dan tudingan tidak adanya batas tanah dan luas tanah, dirinya menyebut hal itu tidak benar.

 

"Ditahun 1994 itu rawa-rawa, maka oleh mereka yang tentukan soal perjanjiannya seperti apa. Karena ditahun itu belum diukur maka belum jelas luasnya, masih hutan. namun batas-batasnya jelas. Saat itu dipasang patok sampai 14 patok, dan itu ada orangnya, yang kita hadirkan di persidangan," ungkap Muslim.

 

Dijelaskan pula, penjual tanah tersebut sesungguhnya adalah Hassor sendiri, yang saat ini mengklime tanah tersebut miliknya. Termasuk tudingan surat pelepasan abal-abal, hingga pihaknya mengarahkan penyelesaian di Pengadilan.

"Yang menjuak itu Hassor sendiri kepada Bintang Mas pada 1994, jadi yang menjual dia dan yang mengingkari dia sendiri. Kalau orang lain mungkin lain, tapi ini dia sendiri . Kata pelepasan abal-abal itu maka kita uji di Pengadilan. Dia yang terima uang, baru 10 - 20 tahun baru biilang abal-abal,"katanya.

Selanjutnya, kata Muslim, Hassor mempermasalahkan soal hukum dan segala macamnya yang membuat dirinya kalah. Dikatajan hal itu soal mekanisme, namun kebenaran tanah yang dia jual kepada Bintang Mas itu tidak bisa disangkal. Dan Pengadilan sudah membuktikan itu.

"Pengadilan yang menguji semua bukti dan saksi-saksi, dan Bintang Mas menang. Jadi selama ini dia memorovokasi dia punya masyarakat. Padahal dia sendiri yang menjual. Kalau masyarakat tidak terima harusnya dia yang dipersoalkan , karena dia sendiri yang menjual, kemudian menyangkali. Ada juga peta yang dibuat atas tanah itu, dab ditandatangani, jadi mau menyangkal bagaimana,"ucapnya.

Lantas, soal telah terbitnya Sertifikat tanah atas nama Pemerintah Kota Jayapura,  dengan dasar pelepasan adat yang ditandatangani Gerson Hassor, dikatakan hal tersebut adalah akal-akalan saja, atas permasalahan sengketa yang terjadi.

"Karena sudah tau kalau bermasalah, maka dikeluarkanlah surat pengesahan ke pihak lain itu. Ini akal-akalan dia saja,"ucapnya.

Namun, atas sengketa yang terjadi pihaknya berharap soal lahan diatas Jembatan Merah tersebut bisa diselesaikan dengan baik.

"Mungkin ada wing-wing solusi atas itu, karena juga sudah dibangun diatasnya fasilitas publik. Adanya kami pengacara yang sebetulnya untuk membantu menyelesaikan masalah ini dengan baik,"pungkasnya.

Diakui, pihaknya telah mengajukan permohonan eksekusi, dan sudah di Aanmaning. Nantinya pihak Pengadilan akan turun bersama pihak-pihak yang bersengketa. Pihaknya berharap pihak Gerson Hassor turut dalam eksekusi nantinya itu. 

Sementara terkait sengketa Tanah Di Netar Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura diakui Muslim, kasusnya serupa.

"Yang menjual itu yang menggugat. Bapak Malo itu, dia yang menjual itu, ada dua orang dulu, namun yang seorang sudah meninggal,"katanya.

Malah, diungkapkan, Malo dulu berada dibelakang CV. Bintang Mas. Jika ada persoalan terkait, maka dia lah yang maju untuk membela CV. Bintang Mas.

"Kita juga bingung dengan sekrang, semenjak ada proyek pembangunan Dapur Papua itu. Bapak Malo dulu disuruh tinggal disana, karena orangnya baik. Malah dikasih modal juga, termasuk dibelikan perahu oleh Bintang Mas,"katanya.

Untuk harga tanah, kata Muslim, diungkap awal jual beli bernilai Rp. 22 Juta lebih, namun pembangiannya, Malo memperoleh Rp. 9 juta lebih, dan dikatakan Bapak Malo memperoleh bagian terbanyak kala itu.

"Sehingga atas gugatan itu, Bintang Mas melaporkan ke pihak Polisi, sehingga Malo diproses hukum. Fakta hukum tidak bisa ditipu,"pungkasnya.(Min)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment