Ini Data Korban Jiwa Yang Benar Versi Tim Solidaritas Peduli Nduga

By Admin 02 Agu 2019, 06:08:25 WIB POLITIK
Ini Data Korban Jiwa Yang Benar Versi Tim Solidaritas Peduli Nduga

Keterangan Gambar : Tim Solidaritas Peduli Nduga saat merilis hasil verifikasi di Sekretariat Kontras Papua


Potret.co. Jayapura - Tim solidaritas Peduli Konflik Nduga Papua menyebut data korban jiwa dan pengungsian di Kabupaten Nduga yang banyak disampaikan ke media massa oleh berbagai pihak dinilai tidak valid.

Sam Awom koordinator Kontras Papua yang juga tergabung dalam tim Solidaritas itu mengaku, atas kondisi itu, pihaknya bersama tim yang berada di Jayapura, Jakarta, dan Wamena Jayawijaya segera melakukan pendataan korban dan para pengungsi serta dampak atas konflik Nduga yang saat ini terjadi.

"Kami segera berkoordisi atas kondisi itu, kami memverifikasi semua data yang ada. Tim bergerak selama 13 hari sejak 18 Juli lalu. Dan hari ini kita rilis,"kata Sem Awom, Kamis (2/7/2019).

Dikatakan, data korban jiwa sebanyak 53 orang yang disampaikan pihak Kementerian Sosial RI adalah data lama, bukan terbaru. Dikatakan Sem, data tersebut dikeluarkan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Kabupaten Nduga per Februari 2019.

"Itu data pada bulan Februari dan mereka bekerja hanya 6 hari dari 1-6 Februari 2019, yang hanya dilakukan pada 3 Distrik,  yakni Mapenduma, Kagayam dan Paro. Artinya, dalam 6 hari itu, sangat tidak mungkin menyimpulkan jumlah korban selama memasuki 8 bulan konflik, terhitung Desember 2018 hingga Juli 2019,"ungkapnya.

Dikatakan, data yang benar sesuai hasil verifikasi pihaknya adalah korban jiwa meninggaldunia sebanyak 182 orang, dan 2 korban yang masih hidup, dengan klasifikasi sbb; Laki-laki dewasa meninggal 69 orang, Perempuan dewasa meninggal 21 orang, anak perempuan meninggal 21 orang, anak laki-laki meninggal 20 orang. Balita Perempuan 14 orang, Balita laki-laki 12 orang, Bayi laki-laki 17 orang dan Bayi Perempuan 8 orang.

Sementara 1 org Bayi disandera aparat TNI (masih hidup) orang tuanya mati ditembak, dan 1 orang korban penyiksaan dan harta benda dirampas masih hidup. 

Sementara jumlah korban dan pengungsi di internal Nduga,  4.276 di Mapenduma, 4.369 di Mugi, 5.056 di Jigi,  5.021 di Yal, 3.775 di Mbulmu Yalma. Pengungsi di Kagayem 4.238, Nirkuri 2.982, Inikgal 4.001, Mbua 2.021, Dal 1.704. Data internal tim menyebut pengungsi tersebar pada 40-an titik, yang kebanyakan mengungsi dalam satu honai berisi 30-50 orang, bahkan ada yang ratusan orang.

Pihaknya menegaskan berbagai pihak untuk tidak menyebar berita hoax atas jumlah korban dan pengungsi di Nduga.

"Jangan memboomingkan sesuatu yang salah. Untuk pengungsi ini. Provinsi menyebut 8000 tanpa melakukan investasi dan verifikasi, Pemkab Nduga menyebut 45 ribu lebih. Antara pemerintah tidak ada yang valid. Kalau untuk siswa sekolah sekitar 3.457 itu sudah betul, mereka tidak bersekolah,"katanya.

Selain korban pengungsi, aktivitas kesehatan di Puskesmas dan sekolah serta tempat ibadah tidak berjalan. Masyarakat ketakutan dan meninggalkan rumah-rumah mereka.

Berdasarkan catatan tim, anak-anak yang mengungsi di Wamena sebanyak 637 orang usia sekolah dari SD-SMA. Ada 81 guru yang turut mengungsi. Anak-anak ini harus difasilitasi untuk ikut ujian nasional. Saat ini mereka mengungsi di sekolah darurat yang dibangun relawan.

Pihaknya dengan tegas meminta pasukan TNI Polri ditarik dari Kabupaten Nduga. Pasalnya, kata dia, aktor ketidakadilan adalah pihak militer. Selain itu, pihaknya meminta akses masuk pekerja HAM dan Jurnalis dan Pekerja kemanusian untuk masuk ke Nduga. 

"Saat ini teman-teman Jurnalis dan Pekerja kemanusian banyak tertahan di Wamena, mereka takut keatas, karena tidak ada jaminan keamanan,"katanya.

Pihaknya juga meminta Komnas HAM RI membentuk Tim Penyelidik Pelanggaran HAM Ad Hoc untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM.

Dalam kesempatan yang sama,  Agus Kadopa, Gerakan Papua Mengajar yang juga diamini Nelius Wenda, Serikat Perjuangan Mahasiswa (SEPAHAM)

meminta seluruh pihak melihat kasus Nduga dari sisi kemanusiaan.  Utamanya para kondisi pengungsi, termasuk terbengkalainya pendidikan bagi anak-anak Nduga.

"Mari kita lihat harus generasi Nduga kedepan, yang saat ini habis. Kita bisa lihat pendaftar Uncen jalur lokal itu tidak ada satupun anak Nduga yang mendaftar kuliah disini. Ini adalah buntut kasus disana saat ini,"katanya.

Menurutnya,  mesti ada langkah kongkrit untuk menyelamatkan generasi Nduga agar bisa kembali bersekolah dengan baik termasuk yang hendak berkuliah di Jayapura.

"Harus ada upaya kemanusiaan yang dibuat untuk menyelamatkan generasi Nduga. Sekolah mereka yang berantakan, ketakutan yang luar biasa hingga mereka tidak fokus lagi bersekolah. Yang sudah lulus, entah bagaimana, mereka mengungsi dan tidak lagi berfikir kuliah lagi,"katanya.

Jefry Lokbere, intelektual Nduga mengaku data yang diungkap Tim Solidaritas betul, karena dua orang keluarganya turut menjadi korban dalam konflik bersenjata itu.

"Ini benar adanya, ada korban ada pengungsi, jadi jangan ditutup-tutupi lagi. Banyak data hoax yang beredar, seolah olah Nduga terlupakan. Saat ini semua sumber di Nduga mati. Kami bisa apalagi. Kami mau Jokowi tau data begini, dan militer juga harus tau ini. Kita bilang mereka (TNI Polri)  membabibuta, dan mereka tidak tau data ini,"katanya.

Atas konflik yang timbul akibat upaya penegakan hukum kepada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya oleh aparat pasca pembantaian 19 pekerja jembatan Trans Papua PT. Istaka Karya pada Desember 2018 lalu, berbuah gelombang pengungsian dihampir semua Disatrik. 

Dugaan jatuhnya korban jiwa disuarankan oleh berbagai pihak, namun data valid atas para korban tersebut, masih sangat membingungkan masyarakat.

Berbagai pihak diminta duduk dan serius membahas persoalan tersebut. Mengeyampingkan ego saling klime dan fokus mengurusi pengungsi dan perbaikan kualitas hidup warga Nduga penting dilakukan segera.(Min)

 

 

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment