Kuota Terbatas, REI Papua : Menyulitkan MBR Miliki Rumah Subsidi

By Admin 22 Jan 2020, 06:25:40 WIB EKONOMI
 Kuota Terbatas, REI Papua : Menyulitkan MBR Miliki Rumah Subsidi

Keterangan Gambar : Nelly Suryani. (Syahriah)


Jayapura, Potret.co – Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Provinsi Papua, Nelly Suryani mengatakan, kuota rumah bersubsidi yang hanya 500 unit tahun ini dinilai menyulitkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Nelly mengungkapkan, REI Papua telah mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui DPP REI agar kuota untuk Papua ditambah. Saat ini, REI Papua telah membangun rumah subsidi sebanyak 1.200 unit dari usulan 2.245 unit.

“Kami sudah sampaikan ke pemerintah pusat melalui DPP REI agar kuota untuk Papua ditambah, sebab anggota kami telah menyediakan kuota 2.245 unit ini termasuk yang sudah dibangun dan lahan untuk membangun rumah subsidi. Kalau kuotanya terbatas, maka MBR akan sulit memiliki rumah subsidi,” kata Nelly, di Kota Jayapura, Rabu (15/01/2020).

Dia melanjutkan, rumah subsidi yang dibangun REI di Papua terdapat di 14 kabupaten, jika kuotanya  hanya 500 unit, per kabupaten hanya bisa menjual 30 unit dengan jumlah anggota REI 30 developer (pengembang).

“Kami usulkan kepada pemerintah bagaimana caranya agar rumah yang sudah tersedia unitnya dan calon pembelinya sudah ada dan Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) serta Surat Persetujuan Pemberian Kredit (SP2K) ketika terbit  tidak kedaluwarsa atau sudah lewat jangka waktunya,” ucapnya.

“Lalu debitur tidak bisa memiliki rumah subsidi, terlebih dengan sistem yang baru diluncurkan yakni aplikasi Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (SiKasep) dan Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (SiKumbang) ini yang sangat memberatkan karena semua harus online,” lanjut Nelly.

Pihaknya meminta kepada pemerintah pusat untuk mensosialisasikan sistem tersebut tetapi juga tidak menjadi syarat untuk MBR melakukan akad.  Hal – hal yang menyebabkan ketidakadilan bagi MBR di Papua, kata Nelly, adalah infrastruktur dibangun secara masif, tetapi masyarakat tidak bisa memiliki rumah karena sistem yang dibuat satu kebijakan untuk seluruh wilayah. (Syahriah)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar

View all comments

Write a comment

Loading....



Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video