154view

Menebak Tujuan Jose Mourinho Selanjutnya

Sekalipun sudah tiga kali mengalami pemecatan dari klub yang dilatihnya, Jose Mourinho tetaplah Jose Mourinho. Citranya sebagai pelatih dengan nama besar masih cukup mentereng di blantika sepak bola global. Namun bukan berarti dia kedap pemecatan.

Pemecatan pertama Mourinho dialaminya pada musim kedua menangani Chelsea, 2015-2016, hanya selang beberapa hari setelah kalah 1-3 dari Liverpool. Lalu yang terakhir terjadi belum lama ini, tatkala Manchester United kalah 1-3 dari Liverpool pada pekan ke-17 Liga Inggris di, Stadion Anfield, Minggu (16/12/2018) malam WIB. 

Adapun yang menarik dari momen pemecatan tersebut adalah: semua terjadi usai kalah dari tim yang dilatih Juergen Klopp. Dari 10 pertemuan resmi kedua pelatih (bukan pertandingan pra musim), Klopp memang masih unggul atas Mourinho: menang empat laga, empat hasil imbang, dan dua kekalahan. 

Kendati demikian, Klopp enggan jemawa dengan catatan tersebut. Sebaliknya, kepada Independent ia justru menyatakan simpatinya dengan pemecatan yang menimpa Mourinho dan tetap memuji rivalnya tersebut sebagai pelatih hebat.

“Bukannya saya tidak bersimpati untuknya atau semacam itu. Tapi saya harus katakan, jika seorang manajer dipecat dalam kompetisi Championship atau League One atau League Two, maka itu adalah hal yang buruk karena Anda tidak tahu apakah mereka masih bisa mendapatkan pekerjaan yang sama lagi atau tidak.

“(Sementara) jika Jose ingin pekerjaan baru, dia bisa mendapatkannya dalam dua hari. Itu sangat mudah. Kita sedang membicarakan level yang sangat tinggi. Tapi saya tahu betapa ambisius dirinya dan saya yakin tak mudah baginya menghadapi pemecatan tersebut.”

Klopp ada benarnya, Mourinho belumlah habis, sekalipun banyak pengamat yang menyebut pendekatan taktikalnya sudah kedaluwarsa. Pertanyaannya kini: klub mana yang kira-kira tepat untuk menjadi pelabuhan selanjutnya bagi Mourinho?

Balikan atau Cari Pelabuhan Baru?

Ada sebuah fakta menarik: dari seluruh klub yang pernah dilatihnya, Jose Mourinho tidak pernah bertahan lebih dari tiga tahun. Porto (2002–2004), Chelsea (2004–2007), Inter Milan (2008–2010), Real Madrid (2010–2013), Chelsea (2013–2015), Manchester United (2016–2018).

Dari semua tim, hanya di Porto dan Inter-lah Mourinho meraih kesuksesan tertinggi dengan berhasil meraih Liga Champions. Namun jika melihat kedua tim, kembali ke Inter jelas menjadi opsi paling menarik buat Mourinho. Selain semua orang di sana menghormatinya, spanduk “Grazie Mourinho” bahkan masih terbentang di beberapa laga La Benamata musim ini. Posisi Luciano Spalletti di kursi pelatih pun terhitung belum terlalu memuaskan, terutama setelah ia gagal membawa Nerazzurri lolos ke babak 16 besar Liga Champions, 

Hanya saja, Inter kini tentunya beda dengan Inter ketika Mourinho masih melatih di sana. Pemiliknya berbeda (Suning Holdings Group), presidennya berbeda (Steven Zhang), bahkan CEO-nya pun juga berbeda (Alessandro Antonello). Kualitas para pemainnya pun tak terlalu ciamik dibanding kala Mourinho masih di Giuseppe Meazza. 

Jika dulu Inter punya Wesley Sneijder, Samuel Eto’o, Maicon, hingga Julio Cesar, kini praktis andalan mereka hanyalah Mauro Icardi dan Ivan Perisic. Ingatlah bahwa masalah transfer pemain menjadi salah satu isu sentral yang dianggap Mourinho sebagai penyebab buruknya penampilan United. Dengan melihat komposisi skuat Inter saat ini, amat mungkin Mourinho meminta transfer jor-joran jika ia jadi kembali kesana. 

Peluang Mourinho kembali ke Inter akan menjadi lebih besar jika Massimo Moratti kembali menjadi pemilik klub. Jika pun ada kendala, itu adalah isu kedatangan Diego Simeone yang pernah santer pada September lalu. Anak Simeone, Giovanni Simeone, yang kini menjadi penyerang Fiorentina, bahkan sempat pula meramaikan isu kedatangan ayahnya melatih Nerazzurri. 

Bagaimana jika kembali ke Real Madrid? Sebagaimana dengan Moratti di Inter, Mourinho juga memiliki relasi yang bagus bersama Perez. Bahkan Perez pun menepis jika telah memecat Mourinho. Ketika itu ia lebih suka memakai istilah "kesepakatan bersama".

Permasalahan Mourinho kala melatih Madrid justru relasinya dengan Cristiano Ronaldo. Si pemain merasa taktik pelatihnya buruk, sementara si pelatih menyebut si pemain merasa paling tahu apa saja. Ketika Mourinho pergi, keduanya juga masih sempat saling sindir satu sama lain.

Kini, dengan tidak adanya Cristiano, plus Madrid sedang berada dalam kondisi labil, peluang Mourinho balik ke klub lamanya tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Predrag Mijatovi?, mantan direktur olahraga Madrid, juga menyebut peluang kembalinya Mourinho ke Bernabeu memang tinggi. 

"Saya tidak tahu ukurang persentasenya, tapi kemungkinannya amat besar," ujar pencetak gol kemenangan Madrid ke gawang Juventus di final Liga Champions 1998 itu kepada Goal.

Beberapa klub besar lain yang juga bisa jadi pelabuhan baru bagi Mourinho adalah Bayern Munich dan Paris Saint Germain. 

Bayern pernah nyaris merekrut Mourinho ketika namanya tengah menjulang, sekitar periode 2007-2008. Namun, ia memutuskan bergabung bersama Inter dan justru mengalahkan The Bavarians yang dilatih Louis van Gaal di final Liga Champions dengan skor 2-0. Kendati kini Munich juga mengalami musim yang tidak mengenakkan dengan pelatih Niko Kovac, menggantikannya dengan Mourinho sepertinya juga bukan jawaban yang tepat.

Sebagai klub, Munich dikenal selalu berpegang teguh dengan azas stabilitas: keuangan yang sehat, pemain yang jauh dari gosip, pelatih yang jauh dari citra negatif. Dari 29 pelatih Munich sejak tahun 1969, dapat dikatakan hanya ada dua pelatih yang punya karakter berapi-api: Giovanni Trapattoni dan Van Gaal. Jika Munich mendatangkan Mourinho, mereka tentu harus siap menanggung segala konsekuensi dari ucapannya yang acap menimbulkan kontroversi. 

Sementara PSG sepertinya cukup pas bagi Mourinho. Sebelum mendatangkan Carlo Ancelotti sebagai pelatih musim 2010/2011, PSG pernah menyatakan ketertarikannya kepada Mourinho. Namun pelatih kelahiran 26 Januari 1963 itu menolaknya karena ketika itu ia masih ada kontrak dengan Madrid.

Satu hal yang pasti, jika Mourinho kali ini jadi hijrah ke Parc des Princes, PSG jelas tidak akan kesulitan memenuhi aspek transfer yang belakangan dikeluhkan si pelatih di United. Belakangan, pada 2017 lalu, Mourinho juga secara terbuka memuji proyek sensasional PSG sebagai sesuatu yang “spesial...ajaib...fantastis.” 

Persoalannya, PSG di bawah asuhan Thomas Tuchel saat ini masih terhitung apik. Bahkan di babak 16 besar Liga Champions nanti mereka akan bertemu dengan United. Relasinya dengan para pemain pun baik-baik saja—salah satunya ditunjukkan dengan mampu meredam konflik antara Neymar dan Edinson Cavani yang sempat mencuat. Menilik berbagai faktor tersebut, ditambah Tuchel juga tahun ini merupakan musim perdananya, rasanya kecil peluang PSG mempekerjakan pelatih yang baru dipecat seperti Mourinho.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook